Dampak Krisis Global
Dampak krisis global akibat krisis keuangan di Amerika Serikat dan naiknya tarif listrik di Batam sudah dirasakan para pengusaha di Batam. Akibatnya beberapa pengusaha di Batam sudah membatasi jam lembur, karena tidak adanya produksi dan menghemat listrik.
Beberapa perusahaan di Mukakuning seperti PT Takamori, PT Novel, PT Ciba sudah mengurangi jam lembur bagi karyawannya. Begitu juga dengan PT AVI Plastik di kawasan Commo Industri Batamcenter, juga sudah mengurangi jam lembur. Akibatnya karyawan hanya mengandalkan upah minimum kota (UMK) perbulanya hanya Rp960 ribu.
Hal serupa juga terlihat di PT Giken di kawasan Citra Buana II Batuampar, juga dikabarkan para pekerja yang sudah habis kontrak, tidak diperpanjang lagi. Nursiah (27) salah satu pekerja Giken mengaku sudah 6 bulan bekerja di Giken, tapi karena produksi berkurang, maka saya tidak diperpanjang kontrak lagi .
Sementara itu, Ayub (39) salah satu manajemen perusahaan ternama di Mukakuning, mengatakan sudah banyak kabar-kabar dari mulut ke mulut para pekerja di kawasan terpadat di Mukakuning, tidak lagi mendapatkan lembur seperti biasanya. Disebabkan karena sepinya order produksi dari negara Eropa dan negara Jepang.
"Krisis global memang sangat memukul dunia perusahaan di Batam, karena hasil produksi di mukakuning rata-rata dipasarkan di Jepang dan Eropa, jadi langsung terkena dampak krisis global," ungkap Ayub.
Ketua Kadin Batam Nada Soraya mengaku diawal tahun 2009, para pengusaha baru bisa mengetahui tutup atau perusahaan tetap bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Krisis global mengakibatkan ribuan tenaga kerja akan terkena pemutusah hubungan kerja secara massal.
"Saya tetap berharap kepada para pengusaha yang bisa bertahan agar bertahan agar tidak terjadi PHK besar-besaran," minta Nada.
Hal sama juga dikatakan oleh Wakil Apindo Kepri, Abdullah Gosse mestinya pemerintah mengambil langkah untuk meredam krisis global. Pemerintah harus turun ke lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya, jangan hanya menunggu laporan dari anak buah.
"Singapura saja selama 26 tahun kokoh perekonomianya tapi dengan adanya krisis global sudah banyak perusahaan di Singapura mengurangi jam kerjanya," paparnya Gosse.(a/BN)
